Background

Background

Silahkan klik beberapa gambar di bawah ini

  • image1
  • image2
  • image3
  • image4
  • image2
  • image1
  • image4
  • image3
The power of Pray. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan kata 'do'a'. Suatu ketika saat kita terpuruk dalam suatu keadaan kita tak henti-hentinya memanjat do'a pada Sang Kuasa untuk pertolongannya. Siang malam kita selalu mengucap namanya, mengucap permintaan, petunjuk untuk dimudahkan atas segala cobaan yang diberikan-Nya. Saya sendiri juga begitu selalu momohon kepada-Nya untuk diberi kemudahan dan kebarokahan dalam menjalani hidup ini. Saya bertanya-tanya apa Allah mendengar do'a saya dan mengabulkannya. Saya meyakini bahwa Allah selalu mendengar segala keluh kasih setiap hamba-Nya. Optimisme itu kembali muncul saat saya membuka file do'a format .docx di private folder saya. Do'a itu saya tulis dan saya layangkan lewat e-mail kepada teman saya yang orang tuanya akan berangkat Ibadah Haji. Saya menulis dengan kesungguhan hati untuk berserah diri sepenuhnya kepada-Nya.
Setelah saya baca kembali do'a yang saya tulis. Saya lantas berdecak, hati serasa bergetar ketika baris demi baris membaca ulang tulisan itu. Rasa sangat bersyukur telah di kabulkannya satu persatu do'a saya. Allah ternyata mendengar setiap do'a yang dipanjatkan. Mengutip dari perkataan ustad dalam suatu forum pengajian "Yang namanya do'a itu ada tiga macam. Ada do'a yang sekali meminta langsung diberi, selanjutnya diganti yang lebih baik lagi dan ditunda (diberi dilain waktu)".
Yakin atas segala do'a yang terucap. 
Yakin bahwa Allah memberikan terbaik bagi hamba-Nya.
Yakin hidup ini lancar barokah dengan tawakal pada Allah.

Alhamdulillahhirabbil Allamin atas semua nikmat yang engkau berikan kepada diriku dan keluargaku.
Mungkin saat itu panas sangat terik di sekitar pantai. Suara ombak menggulung-gulung dengan kerasnya. Laut siang itu terlihat membiru jernih. Batu karang yang berdiri sendiri tampak kokoh meskipun di hantam gulungan ombak. Ironi memang jika kita melihat batu itu. Berdiri sendiri jauh dari batu karang lainnya dihantam dengan ombak keras setiap hari, tapi tetap berdiri kokoh tanpa mengeluh. Hamparan pasir putih membentang di pesisir pantai. Butiran kecil pasir terasa lembut ketika kaki melangkah setapak demi setapak. Ku langkahkan kaki ku mengikuti jejak kakimu. Kau sengaja berjalan di depanku. Dari belakang aku kembali melihat sosok punggung. Entah kenapa selalu ku melihat sosok punggung mu. Apakah aku seorang pengagum punggung? Tapi melihat mu dari belakang, kau seperti sosok yang berbeda sosok apaadanya terlepas dari semua sifat-sifatmu selama ini. Apakah mungkin aku hanya mencintaimu dari belakang saja?. Aku kembali bertanya pada diriku sendiri yang sering pilu ketika memikirkan hal tersebut. Jikalau aku hanya mencintai mu dari satu sisi saja, berarti aku seorang penjahat, seorang yang tidak bisa menerima dari kedua sisi, bisa saja seorang pengecut yang tidak mau mengambil resiko atas sisi yang lainnya. Tapi terlepas dari semua itu, aku sangat mengagumi sosokmu. Paras wajah yang cantik, caramu mengenakan hijab, senyum tegasmu, caramu bertutur kata, sifatmu kepada semua orang, semua hal yang ada pada dirimu membuat aku semakin kagum dengan dirimu. Aku bersyukur kepada Tuhan karena diberi anugrah memiliki rasa yang lebih terhadapmu. Merasakan indahnya 'jatuh cinta'. Bersama kawan-kawan yang lain kau berlarian di seitar tepi pantai. Kaki berdecik melangkah sambil menginjak-injak ombak yang naik ke bibir pantai meninggalkan bekas jejak. Jejak kaki kecil di pasir pantai ku coba ikuti. Setapak demi setapak langkah kakimu ku ikuti. Aku mencoba menambah kecepatan melangkahku supaya bisa mengejar dirimu dan berlarian bersama. Entah kenapa larimu semakin cepat. Aku seketika tidak bisa berlari lebih cepat. Kau semakin jauh disana, seketika semua menjadi gelap. Aku tersungkur diatas pasir pantai, ombak, batu karang dan semuanya tidak ada sekeliling berubah menjadi gelap tanpa cahaya satupun. Badan terasa lemas tak berdaya dan tak sadarkan diri.
Ketika mataku mulai terbuka hanya terlihat atap plavon kamar kosan yang sempit. Semua tadi hanya mimpi, mimpi tentang dirimu. Entah kenapa kau muncul dalam mimpi. Efek tugas kuliah yang banyak membuat kualitas tidur menjadi berkurang. Tetapi aku tetap bersyukur karena Tuhan menghadirkan sosokmu dalam mimpi yang singkat.