Oleh : Agung Wendy Prasetyo
Membaca merupakan suatu aktivitas yang dapat menambah wawasan kita terhadap ilmu pengetahun maupun teknologi. Dalam kehidupan kita sehari-hari tidak dapat dilepaskan dari aktivitas membaca, mulai kita bangun tidur hingga menjelang tidur lagi, membaca jadwal untuk hari ini, baca SMS yang masuk dari teman-teman maupun dari orang spesial kita dan ada sebagaian orang atau diri kita sendiri yang mengisi waktu luang untuk membaca, baik membaca novel, cerpen atau buku pelajaran yang kita lakukan setiap hari baik di sekolah maupun di rumah.
Tapi ironis sekali, dijaman yang berbasis IT seperti saat ini, saat kita berlomba-lomba dalam menghadapi era global, banyak terdapat orang yang sama seklai tidak bias membaca atau dengan kata lain dapat dikenal sebagai penyandang buta aksara.
Berdasarkan data pada tahun 2004, mayoritas penduduk Indonesia atau sebanyak 90,4% sudah melek huruf. Artinya masih tersisa 9,6% penduduk Indonesia yang masih buta aksara dan itu berjumlah sekitar 14,8 juta orang, bukan angka yang sedikit memang. Hal ini terjadi dikarenakan adanya DO (Drop Out) pada tingkat Sekolah Dasar yang terjadi pada anak kelas 1-3. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh kondisi ekonomi masyarakat yang kian memburuk, sehingga memaksa para anak bangsa ini yang ingin melanjutkan cita-cita perjuangan, mengukir prestasi sehingga mengharumkan nama bangsanya terpaksa harus kandas ditengah jalan.
Hal lainnya yaitu angka buta aksara lebih didominasi oleh perempuan. Dulu memang perempuan dipandang sebelah mata, tidak boleh keluar rumah saat sudah beranjak dewasa atau istilahnya dipingit sehingga tisak dapat mengenyam pendidikan yang semestinya. Tapi sejak adanya emansipasi atau penyetaraan gender seperti saat ini, banyak para perempuan yang menjadi wanita karir, pebisnis sukses dan yabg lebih takjub laginyaitu Negara kita pernah dipimpin oleh seorang presiden prempuan yaitu ibu Megawati Sukarno Putri. Tapi mengapa sekarang masih banyak terdapat perempuan yang yang kurang diberdayakan , sebagai objek trafficking (perdagangan manusia). Hal tersebut membuat para perempuan khususnya di daerah pelosok menjadi orang yang tidak dapat mengenali tulisan atau huruf.
Buta aksara merupakan suatu masalah bagi kita semua, baik di dunia Internasional maupun di Indonesia yang tidak dapat dianggap sebagai suatu masalah yang enteng. Karena buta aksara itu sendiri dapat mengganggu perkembangan suatu Negara. Hal ini terbukti dengan adanya pencapaian pembagunan manusia di Indonesia tertinggal dengan Negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Filipina. Selain selain itu juga buta aksara dapat mengancam kelangsungan demokrasi di Negara kita seperti kata Ella Yulaelawati Direktur Pendidikan Masyarakat Depdiknas yaitu “Buta aksara melahirkan banyak kebutaan lain menyangkup social, budaya, ekonomi dan politik. Warga buta aksara akan sulit menerima informasi akan nilai-nilai demokrasi dan kemajemukan. Padahal, dunia terlanjur mengenal Indonesia sebagai Negara demokratis” (dikutip dari Kompas, 15 Juni 2009). Berdasarkan kutipan tersebut, selain mengganggu kelangsungan demokrasi juga dapat menggagu berbagai aspek lainnya seperti aspek sosial masyarakat, budaya yang berada dalam masyarakt saat ini, kegiatan ekonomi yang terdapat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dan juga system politik yang ada di Negara kita.
Di Gresik sendiri, hingga akhir 2008 penduduk Gresik yang buta huruf tercatat 7.693 orang. Angka itu berdasarakan dari data jumlah penduduk buta aksara tingkat lanjut usia 15-60 tahun. Dari hasil survei Dinas Pendidikan dan Badan Pusat Statistik (BPS) Gresik, angka buta aksara didominasi perempuan yakni mencapai 5.567 orang, sementara laki-laki tercatat 2.126 orang, perbandingan angka yang sangat signifikan.
Untuk itu pemberantasan atau penanganan buta aksara harus segera ditindak lanjuti, agar bangsa kita tidak semakin tertinggal dengan Negara lain. Kebijakan pemerintah yang mendukung kegiatan pemberantasan buta aksara seperti Inpres No. 5/ 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Pemberantasan Buta Aksara (GN-PPBA), harus kita dukung sepenuhnya agar kebijakan tersebut dapat berjalan sebgaimana mestinya. PKMB (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) yang sudah ada kini harus dikelola dengan baik agar tidak terbengkalai tinggal papan namanya saja. SKB (Sanggar Kegiatan Belajar), Kursus, PAUD juga tidak luput dari perhatian kita semua untuk mengurangi jumlah buta aksara di Indonesia khususnya di Gresik. Yang baru-baru ini muncul yaitu program perpustakaan keliling yang diadakan oleh pemerintah, hal ini juga bertujuan untuk mengurangi jumlah penyandang buta aksara, dimana maysarakat khusunya anak-anak usia sekolah dasar atau menengah yang ada di pelosok boleh membaca secara cuma-cuma. Hal ini juga harus kita dukung agar dapat berjalan lebih baik lagi untuk kedepannya.
Jadi dalam proses pemberantasan buta aksara ini, harus terjadi adanya interaksi antara berbagai pihak yang terkait, mulai dari pemerintah sebagai pembuat kebijakan, memberikan solusi yang tepat seperti penyelenggaraan pendidikan formal maupun non formal serta adanya perpustakaan keliling, kemudian hal yang penting yaitu masyarakat sebagai pendukung kebijakan dari pemerintah, pengontrol terhadap jalannya kebijakan serta sebagai pelaku kebijakan yang diupayakan dalam pemberantasan buta aksara.
Kepustakaan :
SurabayaPost.co.id (Capai 7.693 Orang)
Kompas.com (Buta Aksara Ancam Kelangsungan Demokrasi)
bit.lipi.go.id (Pemberantasan Buta Aksara Dengan Hati)
pnfi.depdiknas.go.id (Potensi Buta Aksara Baru di Indoensia 600 Ribu Pertahun)