Background

your

Sahabat. Mungkin bagi beberapa orang persahabatan itu merupakan segalanya. Termasuk juga saya. Sahabat kita peroleh ketika kita memasuki lingkup sosial yang lebih tinggi di atas keluarga. Saat kita bersosialisasi dengan rekan sebaya di lingkungan komplek setiap sore, bercengkrama bersama maupun bermain bersama. Saat indah sebuah persahabat dimulai kita berkenalan. Saat pertama kali bertemu kita canggung untuk sekedar menyapa -say hello-, hanya sekedar ngomong seperlunya saja karena sulit menentukan pokok bahasan yang akan di bicarakan. Masa yang dilalui bersama terasa menyenangkan saat menghabiskan liburan maupun akhir pekan dengan berjalan-jalan. Kadang kala sahabat adalah tempat sandaran dikala kita sedih. Saat kita meneteskan air mata karena diputusin pacar. Tidak banyak juga dalam persahabatan diwarnai oleh pertengkaran satu sama lain. Penyebabnya juga tidak jelas, terlebih lagi karena hal sepele atau kesalah pahaman. Sungguh ingin tertawa sendiri ketika kita men-flashback hal tersebut.
Tak sedikit orang mengerti arti sebuah persahabatan. Mungkin mereka baru menyadari dikala sendiri dan tidak ada seorangpun di dekatnya. Dalam kesendirian kita melamunkan jikalau sahabat kita di sini bersama-sama menghabiskan malam yang sunyi senyap hanya ada suara jangkrik dan hewan malam lainnya. Ataupun jika tiba suatu perpisahan. Saat kelulusan dan semua pergi dengan jalannya masing-masing, tangisan persahabatan mewarnai perpisahan. 
Tapi yang namanya sahabat tidak ada kata perpisahan. Perpisahan hanya untuk para pecundang. Kita tak berpisah. Hanya terhalang jarak dan waktu. Sejatinya sahabat itu akan ada jika kita memerlukannya. Dengan pesatnya perkembangan teknologi jarak dan waktu hanya hoax belaka.

Categories: Share

Leave a Reply