Kemarin kau kirimkan pesan singkat pada handphone ku. "Aku belikan tiket kereta untuk pulang besok, entar uangnya aku transfer". Sejak membaca SMS itu aku langsung menuju Stasiun Lempuyangan Jogja. Cukup jauh dari rumah kosan ku yang terletak di Jl. Gejayan Jogja. Bisa dibilang tiap pulang ke Bandung aku selalu denganmu, atau kamu yang selalu denganku. Aku juga kurang seberapa paham ketikau engkau meminta pulang naik kereta bersama aku selalu mengiyakan. Sebetulnya aku lebih memilih pulang dengan bus patas atau dengan pesawat. Tapi seketika kau meminta seketika itu juga aku mengiyakan. Setelah cukup lama mengantri di loket tiket, akhirnya aku mendapatkan dua buah tiket KA Ekonomi Kahuripan Jogja-Bandung. Aku melihat nomor duduk yang cukup strategis, menghadap ke depan dan di posisi seat isi 2.
Segera ku pencet virtual keyboard untuk melayangkan pesan singkat jam keberangkatan kereta besok malam. Melihat arloji menunjukkan pukul 20.00 WIB, aku masih menunggu di depan pintu masuk peron, engkau tak kunjung datang. Aku sempat dial nomor handphone kamu tapi tak terjawab. Setelah beberapa menit setelah itu kau turun dari motor teman kosanmu dengan menenteng tas kecil yang kau selalu bawa saat pulang dan ransel motiv cewek yang kau gendong di pundak. Kau duduk di samping jendela, mungkin itu tempat favoritmu di kendaraan, selalu memilih tempat dekat jendela kamu bilang biar bisa melihat pemandangan sekitar dan bisa sewaktu-waktu mengambil gambar dari Smartphone mu. Saat di tengah perjalanan, sekitar separuh perjalanan. Kau terlihat tertidur pulas dengan kepala bersandar pada kaca jendela. Dengan headset putih tetap terpasang ditelinga kau terlihat membetulkan posisi tidur yang nyaman. Melewati beberapa jembatan kereta mulai tergunjang, tidur nan pulas terganggu karena kepala mu terbentur dan seketika langsung terbangun. Dalam hati kucoba menawarkan bahu untuk bersandar tapi tak kuasa lidah mengucapkan tawaran itu. Seketika mulut langsung terkunci tak bisa berkata-kata apapun. Tiba-tiba secara reflek kamu memindah posisi sandaranmu ke bahu kananku entah kenapa tidurmu kembali pulas. Aku hanya terdiam dan terjaga sendiri dalam hening malam yang semakin larut seiring suara kereta melesat menuju kota kembang. Tak terasa entah aku masih terjaga atau tertidur dengan mata masih menutup, kudengar suara adzan subuh dan kereta pun telah sampai pada kota tujuan kita. Subuh kereta terjadwal sudah sampai stasiun Bandung. Aku masih tak tega membangunkan dari tidur lelap dalam sandaran bahuku. Ketika aku membenarkan posisi duduk tak sengaja bahu ku bergerak dan kau pun terbangun. Dengan senyum aku berkta dalam hati "maafkan aku telah membangunkanmu". Di pintu keluar kami berpisah kau dengan tas ransel dan tas tangan mu telah di tunggu mobil SUV Putih sementara aku masih menunggu Taksi. Dalam hati kecilku sesungguhnya tersimpan rasa, entah rasa apa itu. Ketika kau meminta seketika itu aku mengiyakan, aku tak bisa mengatakan apa-apa saat aku mau mengucapkannya mulut langsung taekunci. Biarkan waktu yang memberi tahu dirimu yang sebenarnya.