Background

Background

Silahkan klik beberapa gambar di bawah ini

  • image1
  • image2
  • image3
  • image4
  • image2
  • image1
  • image4
  • image3
Entah bagaimana kita berkenalan. Kapan kita pertama kali bertemu. Serta bagaimana kita bertegur sapa. Setiap kali kita berpapasan seperti melewati sebuah tembok, tanpa ada ekspresi apapun. Mungkin jika tidak karena suatu kebetulan mungkin kita tidak akan saling mengenal. Ketika aku duduk disalah satu bangku taman kampus, kau kebetulan berada didekatku. Dan tanpa aku sadarai aku kebetulan menawarimu sebuah kudapan yang baru saja aku beli dari mini market dekat rumah kos ku. Kebetulan kalau kita berada dalam satu kelas kuliah yang sama. Kebetulan juga kita selalu mengerjakan tugas dalam satu kelompok. Apa kebetulan juga kalau aku diam-diam menaruh perasaan kepadamu? Apa memang kebetulan ini direncanakan atau hanya sebuah kebetulan semata?. Entah apa daya tarik dirimu. Sulit dijelaskan oleh aljabar dan alogaritma yang telah diturunkan atau dideferensialkan. Gaya tarik tersebut tidaklah se simpel gaya tarik bumi atau gaya tarik medan magnet. Mungkin karena sifatmu itu. Yang menurut beberapa orang unik atau bahkan ada yang bilang aneh.
Saat aku bersama teman yang lainnya dirimu tak henti-hentinya disebut dan menjadi topik perbincangan sekelompok mahasiswa cowok yang sedang asik membaca buku di salah satu sudut perpusatakaan. Apa kebetulan juga salah satu teman ku juga menaruh hati pada dirimu. Apa kebetulan juga aku harus melepaskan begitu saja perasaan ku padamu. Aku tak memberi tau yang sebenarnya kepada dirimu apa itu juga kebetulan?. Pertemuan kita kebetulan, perkenalan kita juga kebetulan semuanya serba kebetulan. Seperti adegan film genre romance yang semua kejadiannya telah diseting dengan kebetulan.

Kemarin kau kirimkan pesan singkat pada handphone ku. "Aku belikan tiket kereta untuk pulang besok, entar uangnya aku transfer". Sejak membaca SMS itu aku langsung menuju Stasiun Lempuyangan Jogja. Cukup jauh dari rumah kosan ku yang terletak di Jl. Gejayan Jogja. Bisa dibilang tiap pulang ke Bandung aku selalu denganmu, atau kamu yang selalu denganku. Aku juga kurang seberapa paham ketikau engkau meminta pulang naik kereta bersama aku selalu mengiyakan. Sebetulnya aku lebih memilih pulang dengan bus patas atau dengan pesawat. Tapi seketika kau meminta seketika itu juga aku mengiyakan. Setelah cukup lama mengantri di loket tiket, akhirnya aku mendapatkan dua buah tiket KA Ekonomi Kahuripan Jogja-Bandung. Aku melihat nomor duduk yang cukup strategis, menghadap ke depan dan di posisi seat isi 2.

Segera ku pencet virtual keyboard untuk melayangkan pesan singkat jam keberangkatan kereta besok malam. Melihat arloji menunjukkan pukul 20.00 WIB, aku masih menunggu di depan pintu masuk peron, engkau tak kunjung datang. Aku sempat dial nomor handphone kamu tapi tak terjawab. Setelah beberapa menit setelah itu kau turun dari motor teman kosanmu dengan menenteng tas kecil yang kau selalu bawa saat pulang dan ransel motiv cewek yang kau gendong di pundak. Kau duduk di samping jendela, mungkin itu tempat favoritmu di kendaraan, selalu memilih tempat dekat jendela kamu bilang biar bisa melihat pemandangan sekitar dan bisa sewaktu-waktu mengambil gambar dari Smartphone mu. Saat di tengah perjalanan, sekitar separuh perjalanan. Kau terlihat tertidur pulas dengan kepala bersandar pada kaca jendela. Dengan headset putih tetap terpasang ditelinga kau terlihat membetulkan posisi tidur yang nyaman. Melewati beberapa jembatan kereta mulai tergunjang, tidur nan pulas terganggu karena kepala mu terbentur dan seketika langsung terbangun. Dalam hati kucoba menawarkan bahu untuk bersandar tapi tak kuasa lidah mengucapkan tawaran itu. Seketika mulut langsung terkunci tak bisa berkata-kata apapun. Tiba-tiba secara reflek kamu memindah posisi sandaranmu ke bahu kananku entah kenapa tidurmu kembali pulas. Aku hanya terdiam dan terjaga sendiri dalam hening malam yang semakin larut seiring suara kereta melesat menuju kota kembang. Tak terasa entah aku masih terjaga atau tertidur dengan mata masih menutup, kudengar suara adzan subuh dan kereta pun telah sampai pada kota tujuan kita. Subuh kereta terjadwal sudah sampai stasiun Bandung. Aku masih tak tega membangunkan dari tidur lelap dalam sandaran bahuku. Ketika aku membenarkan posisi duduk tak sengaja bahu ku bergerak dan kau pun terbangun. Dengan senyum aku berkta dalam hati "maafkan aku telah membangunkanmu". Di pintu keluar kami berpisah kau dengan tas ransel dan tas tangan mu telah di tunggu mobil SUV Putih sementara aku masih menunggu Taksi. Dalam hati kecilku sesungguhnya tersimpan rasa, entah rasa apa itu. Ketika kau meminta seketika itu aku mengiyakan, aku tak bisa mengatakan apa-apa saat aku mau mengucapkannya mulut langsung taekunci. Biarkan waktu yang memberi tahu dirimu yang sebenarnya.

Bandung, Januari 2013
Kereta Jogja-Bandung
The power of Pray. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan kata 'do'a'. Suatu ketika saat kita terpuruk dalam suatu keadaan kita tak henti-hentinya memanjat do'a pada Sang Kuasa untuk pertolongannya. Siang malam kita selalu mengucap namanya, mengucap permintaan, petunjuk untuk dimudahkan atas segala cobaan yang diberikan-Nya. Saya sendiri juga begitu selalu momohon kepada-Nya untuk diberi kemudahan dan kebarokahan dalam menjalani hidup ini. Saya bertanya-tanya apa Allah mendengar do'a saya dan mengabulkannya. Saya meyakini bahwa Allah selalu mendengar segala keluh kasih setiap hamba-Nya. Optimisme itu kembali muncul saat saya membuka file do'a format .docx di private folder saya. Do'a itu saya tulis dan saya layangkan lewat e-mail kepada teman saya yang orang tuanya akan berangkat Ibadah Haji. Saya menulis dengan kesungguhan hati untuk berserah diri sepenuhnya kepada-Nya.
Setelah saya baca kembali do'a yang saya tulis. Saya lantas berdecak, hati serasa bergetar ketika baris demi baris membaca ulang tulisan itu. Rasa sangat bersyukur telah di kabulkannya satu persatu do'a saya. Allah ternyata mendengar setiap do'a yang dipanjatkan. Mengutip dari perkataan ustad dalam suatu forum pengajian "Yang namanya do'a itu ada tiga macam. Ada do'a yang sekali meminta langsung diberi, selanjutnya diganti yang lebih baik lagi dan ditunda (diberi dilain waktu)".
Yakin atas segala do'a yang terucap. 
Yakin bahwa Allah memberikan terbaik bagi hamba-Nya.
Yakin hidup ini lancar barokah dengan tawakal pada Allah.

Alhamdulillahhirabbil Allamin atas semua nikmat yang engkau berikan kepada diriku dan keluargaku.