Background

Background

Silahkan klik beberapa gambar di bawah ini

  • image1
  • image2
  • image3
  • image4
  • image2
  • image1
  • image4
  • image3
Mungkin saat itu panas sangat terik di sekitar pantai. Suara ombak menggulung-gulung dengan kerasnya. Laut siang itu terlihat membiru jernih. Batu karang yang berdiri sendiri tampak kokoh meskipun di hantam gulungan ombak. Ironi memang jika kita melihat batu itu. Berdiri sendiri jauh dari batu karang lainnya dihantam dengan ombak keras setiap hari, tapi tetap berdiri kokoh tanpa mengeluh. Hamparan pasir putih membentang di pesisir pantai. Butiran kecil pasir terasa lembut ketika kaki melangkah setapak demi setapak. Ku langkahkan kaki ku mengikuti jejak kakimu. Kau sengaja berjalan di depanku. Dari belakang aku kembali melihat sosok punggung. Entah kenapa selalu ku melihat sosok punggung mu. Apakah aku seorang pengagum punggung? Tapi melihat mu dari belakang, kau seperti sosok yang berbeda sosok apaadanya terlepas dari semua sifat-sifatmu selama ini. Apakah mungkin aku hanya mencintaimu dari belakang saja?. Aku kembali bertanya pada diriku sendiri yang sering pilu ketika memikirkan hal tersebut. Jikalau aku hanya mencintai mu dari satu sisi saja, berarti aku seorang penjahat, seorang yang tidak bisa menerima dari kedua sisi, bisa saja seorang pengecut yang tidak mau mengambil resiko atas sisi yang lainnya. Tapi terlepas dari semua itu, aku sangat mengagumi sosokmu. Paras wajah yang cantik, caramu mengenakan hijab, senyum tegasmu, caramu bertutur kata, sifatmu kepada semua orang, semua hal yang ada pada dirimu membuat aku semakin kagum dengan dirimu. Aku bersyukur kepada Tuhan karena diberi anugrah memiliki rasa yang lebih terhadapmu. Merasakan indahnya 'jatuh cinta'. Bersama kawan-kawan yang lain kau berlarian di seitar tepi pantai. Kaki berdecik melangkah sambil menginjak-injak ombak yang naik ke bibir pantai meninggalkan bekas jejak. Jejak kaki kecil di pasir pantai ku coba ikuti. Setapak demi setapak langkah kakimu ku ikuti. Aku mencoba menambah kecepatan melangkahku supaya bisa mengejar dirimu dan berlarian bersama. Entah kenapa larimu semakin cepat. Aku seketika tidak bisa berlari lebih cepat. Kau semakin jauh disana, seketika semua menjadi gelap. Aku tersungkur diatas pasir pantai, ombak, batu karang dan semuanya tidak ada sekeliling berubah menjadi gelap tanpa cahaya satupun. Badan terasa lemas tak berdaya dan tak sadarkan diri.
Ketika mataku mulai terbuka hanya terlihat atap plavon kamar kosan yang sempit. Semua tadi hanya mimpi, mimpi tentang dirimu. Entah kenapa kau muncul dalam mimpi. Efek tugas kuliah yang banyak membuat kualitas tidur menjadi berkurang. Tetapi aku tetap bersyukur karena Tuhan menghadirkan sosokmu dalam mimpi yang singkat.
Malam itu saat bertemu denganmu disebuah cafe tempat kita sering ketemuan seperti biasanya. Cuaca sedikit dingin karena hujan rinti sejak tadi sore. Meja kayu yang dibiarkan warna aslinya dihiasi lilin warna-warni dalam sebuah gelas. Ketika itu juga saat angin semilir dari balkon cafe, kunyanyikan lagu yovie nuno judulnya inginku bukan hanya jadi temanmu. Ketika kau mendengarnya kau hanya tersenyum tipis sehingga lesung pipimu enggan terbentuk sempurna. Setelah kutipan lirik bait lagu yang kunyanyikan selesai, suasana hening sejenak. Tiba-tiba engkau menggumam sendawa lalu kau menyanyikan lagu Fatin-Memilih Setia.

catatan sebuah lagu